Rangkuman Jurnal Tugas Basis Data
TB ( Tuberkulosis ) masih menjadi salah satu masalah
kesehatan yang harus dihadapi masyarakat dunia. Jumlah kematian dan infeksi TB
yang sangat besar, pertambahan kasus baru TB pun sangat signifikan, mencapai
sembilan juta kasus baru setiap tahunnya. Bila tidak dikendalikan, dalam 20
tahun mendatang TB akan membunuh 35 juta orang. Beban TB di Indonesia masih
sangat tinggi karena TB di Indonesia adalah pembunuh nomor satu diantara
penyakit menular lainnya dan nomor 3 dalam daftar 10 penyebab kematian utama di
Indonesia (setelah jantung, pembuluh darah dan penyakit saluran pernafasan
akut), setiap hari TB menyebabkan sekitar 300 orang meninggal karena TB dari
100.000 orang yang meninggal setiap tahunnya.
Hasil survei Prevalensi TB tahun 2004
menunjukkan bahwa jumlah pasien TB di Indonesia lebih dari 600.000 orang,
dengan angka prevalensi TB Baksil Tahan Asam (BTA) positif secara nasional 110
per 100.000 penduduk. Insiden kasus baru BTA positif tahun 2006 diperkirakan
105 per 100.000 penduduk (240.000 kasus baru setiap tahun) dan prevalensi
578.000 kasus (untuk semua kasus). (Depkes RI, 2005; WHO, 2009b ). Mengingat
besarnya kasus WHO menetapkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai
strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course). Hasil evaluasi
pada pelaksanaan strategi DOTS pada strategi peningkatan sistem kesehatan salah
satu yang menjadi kelemahan adalah bagian
informasi (termasuk monitoring dan evaluasi), yaitu:
a) rendahnya kualitas statistik vital dan
informasi demografi;
b) lemahnya sistem
surveilans penyakit dan rendahnya sistim pencatatan penyakit;
c)
kurangnya pola data pemanfaatan pelayanan kesehatan;
d)
terbatasnya ketrampilan untuk menganalisis data pelayanan pada tingkat
supervisor;
e)
terbatasnya kapasitas penelitian system pelayanan kesehatan dan operasi riset.
Rendahnya kualitas informasi didukung dengan penelitian yang berkaitan dengan
adanya ketidak lengkapan dalam pelaporan TB menyebabkan informasi tidak akurat
(Hest, 2007; Cojocaru et al, 2009). Hasil observasi di Dinas Kesehatan
Kota Yogyakarta, BP4 Kota Yogyakarta, Rumah Sakit Panti Rapih dan Rumah Sakit
Bethesda menunjukkan banyak permasalahan yang muncul pada pencatatan dan
pelaporan data TB ,seperti :
a) Pertama, ketidakakuratan
data, terdapat data yang sama ditulis berulang kali, sehingga mudah menimbulkan
kesalahan;
b)
Kedua masalah
ketidaklengkapan data;
c) Ketiga validasi data
memerlukan waktu lama, karena data dari Puskesmas, BP4, Rumah Sakit dan waktu
lebih dari 2 jam sampai sehari penuh;
d) Keempat, tidak dapat memberikan informasi bulanan tepat waktu;
e)
Kelima, banyak pasien yang
tidak tercatat dalam program DOTS disebabkan karena pindah pengobatan dan tidak
terpantau bahkan tidak dilaporkan;
f)
Keenam kesulitan untuk
monitoring pasien selama pengobatan;
g) Terakhir kesulitan untuk
mengambil keputusan klinis berkaitan penegakan diagnosis TB karena kebutuhan
data klinis belum ada dalam formulir TB standar, sehingga perlu dikembangkan
format laporan.
Permasalahan di atas menyebabkan kesulitan dalam pemantauan rutin pengendalian
TB.
Oleh karena itu membutuhkan system surveilans TB berbasis
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dikenalmdengan sistem surveilans
TB elektronik (electronic Tuberculosis surveillance system). Dengan
dukungan TIK sistem dapat menghasilkan informasi yang berkualitas antara lain
kelengkapan (completeness), akurasi data (accurate), ketepatan
waktu, mudah diakses, dan kerahasiaan serta keamanan data sehingga dapat
meningkatkan mutu pelayanan dan pengambilan keputusan. Sistem tersebut dapat
mengelola data secara optimal karena pengelolaannya dengan system manajemen
database relasional (relasional database management system atau RDBMS)
sehingga memungkinkan untuk mengelola data dalam jumlah besar, mulai dari
pengumpulan, validasi, editing dan peremajaan data dengan akses untuk multiuser
sehingga sangat tepat untuk mendukung pelaksanaan PPM
(WHO, 2009a; Nadol et al, 2008; Ovretveit et al,
2007; Chenhui et al, 2008 ). Berdasarkan hal di atas perlu dibangun
basis data sistem informasi surveilans TB. Adapun tujuan penelitian ini untuk
memperoleh rancangan basis data sistem informasi surveilans Tuberkulosis.
Tujuan
perancangan basis data adalah database yang bisa kompak dan efisien dalam
penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan mudah untuk
memanipulasi data serta bebas dari redundansi. Ada dua cara pendekatan untuk
merancang basis data, yaitu dengan menerapkan normalisasi dan pembuatan ERD (Entity
Relationship Diagram).
Kesimpulannya untuk memperoleh basis data surveilans TB terdiri dari 17 tabel yaitu
tabel pasien, dokter, desa, kec, kab_kota, prop, kk, upk, lab, radiologi, obat,
tim_surveilans, periksa, periksa_tunjang, pengobatan, survey dan periksa_serumah.


0 komentar:
Posting Komentar