Selasa, 15 Maret 2016

ber-ENAM aja cukup nggak?


Banyak diantara kita semua berfikir ber-ENAM selama hampir 4 tahun dengan "nggak bosen tuh?", "ihh yang bener aja", "kurang seru kalo cuma ber-enam", "pasti boring ketemunya itu-itu aja". Sejujurnya emang iya kata “bosen” sering muncul dibenak ku. Kuliah ketemunya sama mereka (Juwita, Pristy, Yusnia, Nanda dan Andika) ngumpul nggak jelas juga sama mereka, malem-malem chating juga sama mereka. Lambat laun kata bosen atau boring itu lenyap bahkan sampe lupa pernah ada kata itu, hehehe. Kita ber-ENAM akan tetap ber-ENAM. Mencari kesalahan satu sama lain itu sudah biasa, bikin salah satu ngambek dan malu juga udah sering, walaupun kita ber-ENAM jarang banget jalan-jalan bareng tapi saat melihat ruangan tempat kita kuliah rasanya suasana itu masih ada dan pasti akan selalu ada. Kita ber-ENAM di ruang 305, nunggu dosen dateng sambil makan gorengan (beli dikantin bawah) pakek uangnya Yusnia, gossip-gosip nggak jelas, nonton film lewat LCD, bahkan nyanyi dan selfi yang bikin nagih sering kok kita nglakuin itu, masih inget kan ?
Kita ber-ENAM saja cukup, kita yang katanya  angkatan yang paling nggak enak diajak kompromi, kita yang katanya cuek dengan suasana baru(anak baru), kita yang katanya paling nggak disiplin kalo berangkat kuliah, tapi kita Cuma ketawa nanggepin omongan yang “KATANYA-KATANYA”, hahahahahahahah. Toh kita ber-ENAM bahagia.
Sekarang bahkan hanya dengan memandang kursi itu kita pasti akan teringat semua yang kita lakukan di kelas ber-ENAM selama hampir 4 tahun ini. Selamat senyum-senyum sendiri saat liat kursi-kursi kampus ya ?
Hey kita ber-ENAM……….miss you all.

(Pristy, Prisca, Nanda, Juwi)

(>_<)

(ber-ENAM)
(Prsc)

Minggu, 06 Oktober 2013

Tugas Smt 3 Rangkuman ( Jurnal Basis Data )

Rangkuman Jurnal Tugas Basis Data

TB ( Tuberkulosis ) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang harus dihadapi masyarakat dunia. Jumlah kematian dan infeksi TB yang sangat besar, pertambahan kasus baru TB pun sangat signifikan, mencapai sembilan juta kasus baru setiap tahunnya. Bila tidak dikendalikan, dalam 20 tahun mendatang TB akan membunuh 35 juta orang. Beban TB di Indonesia masih sangat tinggi karena TB di Indonesia adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular lainnya dan nomor 3 dalam daftar 10 penyebab kematian utama di Indonesia (setelah jantung, pembuluh darah dan penyakit saluran pernafasan akut), setiap hari TB menyebabkan sekitar 300 orang meninggal karena TB dari 100.000 orang yang meninggal setiap tahunnya.
Hasil survei Prevalensi TB tahun 2004 menunjukkan bahwa jumlah pasien TB di Indonesia lebih dari 600.000 orang, dengan angka prevalensi TB Baksil Tahan Asam (BTA) positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk. Insiden kasus baru BTA positif tahun 2006 diperkirakan 105 per 100.000 penduduk (240.000 kasus baru setiap tahun) dan prevalensi 578.000 kasus (untuk semua kasus). (Depkes RI, 2005; WHO, 2009b ). Mengingat besarnya kasus WHO menetapkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course). Hasil evaluasi pada pelaksanaan strategi DOTS pada strategi peningkatan sistem kesehatan salah satu yang menjadi kelemahan adalah bagian
informasi (termasuk monitoring dan evaluasi), yaitu:
 a) rendahnya kualitas statistik vital dan informasi demografi;
             b) lemahnya sistem surveilans penyakit dan rendahnya sistim pencatatan penyakit;
 c) kurangnya pola data pemanfaatan pelayanan kesehatan;
 d) terbatasnya ketrampilan untuk menganalisis data pelayanan pada tingkat supervisor;
e) terbatasnya kapasitas penelitian system pelayanan kesehatan dan operasi riset. Rendahnya kualitas informasi didukung dengan penelitian yang berkaitan dengan adanya ketidak lengkapan dalam pelaporan TB menyebabkan informasi tidak akurat (Hest, 2007; Cojocaru et al, 2009). Hasil observasi di Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, BP4 Kota Yogyakarta, Rumah Sakit Panti Rapih dan Rumah Sakit Bethesda menunjukkan banyak permasalahan yang muncul pada pencatatan dan pelaporan data TB ,seperti :
a)    Pertama, ketidakakuratan data, terdapat data yang sama ditulis berulang kali, sehingga mudah menimbulkan kesalahan;
b)      Kedua masalah ketidaklengkapan data;
c)   Ketiga validasi data memerlukan waktu lama, karena data dari Puskesmas, BP4, Rumah Sakit dan waktu lebih dari 2 jam sampai sehari penuh;
d)     Keempat, tidak dapat memberikan informasi bulanan tepat waktu;
e)      Kelima, banyak pasien yang tidak tercatat dalam program DOTS disebabkan karena pindah pengobatan dan tidak terpantau bahkan tidak dilaporkan;
f)       Keenam kesulitan untuk monitoring pasien selama pengobatan;
g)  Terakhir kesulitan untuk mengambil keputusan klinis berkaitan penegakan diagnosis TB karena kebutuhan data klinis belum ada dalam formulir TB standar, sehingga perlu dikembangkan format laporan.
Permasalahan di atas menyebabkan kesulitan dalam pemantauan rutin pengendalian TB.
Oleh karena itu membutuhkan system surveilans TB berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dikenalmdengan sistem surveilans TB elektronik (electronic Tuberculosis surveillance system). Dengan dukungan TIK sistem dapat menghasilkan informasi yang berkualitas antara lain kelengkapan (completeness), akurasi data (accurate), ketepatan waktu, mudah diakses, dan kerahasiaan serta keamanan data sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan dan pengambilan keputusan. Sistem tersebut dapat mengelola data secara optimal karena pengelolaannya dengan system manajemen database relasional (relasional database management system atau RDBMS) sehingga memungkinkan untuk mengelola data dalam jumlah besar, mulai dari pengumpulan, validasi, editing dan peremajaan data dengan akses untuk multiuser sehingga sangat tepat untuk mendukung pelaksanaan PPM
(WHO, 2009a; Nadol et al, 2008; Ovretveit et al, 2007; Chenhui et al, 2008 ). Berdasarkan hal di atas perlu dibangun basis data sistem informasi surveilans TB. Adapun tujuan penelitian ini untuk memperoleh rancangan basis data sistem informasi surveilans Tuberkulosis.
Tujuan perancangan basis data adalah database yang bisa kompak dan efisien dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan mudah untuk memanipulasi data serta bebas dari redundansi. Ada dua cara pendekatan untuk merancang basis data, yaitu dengan menerapkan normalisasi dan pembuatan ERD (Entity Relationship Diagram).

Kesimpulannya untuk memperoleh basis data surveilans TB terdiri dari 17 tabel yaitu tabel pasien, dokter, desa, kec, kab_kota, prop, kk, upk, lab, radiologi, obat, tim_surveilans, periksa, periksa_tunjang, pengobatan, survey dan periksa_serumah.
Powered By Blogger

Translate