Minggu, 06 Oktober 2013

Tugas Smt 3 Rangkuman ( Jurnal Basis Data )

Rangkuman Jurnal Tugas Basis Data

TB ( Tuberkulosis ) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang harus dihadapi masyarakat dunia. Jumlah kematian dan infeksi TB yang sangat besar, pertambahan kasus baru TB pun sangat signifikan, mencapai sembilan juta kasus baru setiap tahunnya. Bila tidak dikendalikan, dalam 20 tahun mendatang TB akan membunuh 35 juta orang. Beban TB di Indonesia masih sangat tinggi karena TB di Indonesia adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular lainnya dan nomor 3 dalam daftar 10 penyebab kematian utama di Indonesia (setelah jantung, pembuluh darah dan penyakit saluran pernafasan akut), setiap hari TB menyebabkan sekitar 300 orang meninggal karena TB dari 100.000 orang yang meninggal setiap tahunnya.
Hasil survei Prevalensi TB tahun 2004 menunjukkan bahwa jumlah pasien TB di Indonesia lebih dari 600.000 orang, dengan angka prevalensi TB Baksil Tahan Asam (BTA) positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk. Insiden kasus baru BTA positif tahun 2006 diperkirakan 105 per 100.000 penduduk (240.000 kasus baru setiap tahun) dan prevalensi 578.000 kasus (untuk semua kasus). (Depkes RI, 2005; WHO, 2009b ). Mengingat besarnya kasus WHO menetapkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course). Hasil evaluasi pada pelaksanaan strategi DOTS pada strategi peningkatan sistem kesehatan salah satu yang menjadi kelemahan adalah bagian
informasi (termasuk monitoring dan evaluasi), yaitu:
 a) rendahnya kualitas statistik vital dan informasi demografi;
             b) lemahnya sistem surveilans penyakit dan rendahnya sistim pencatatan penyakit;
 c) kurangnya pola data pemanfaatan pelayanan kesehatan;
 d) terbatasnya ketrampilan untuk menganalisis data pelayanan pada tingkat supervisor;
e) terbatasnya kapasitas penelitian system pelayanan kesehatan dan operasi riset. Rendahnya kualitas informasi didukung dengan penelitian yang berkaitan dengan adanya ketidak lengkapan dalam pelaporan TB menyebabkan informasi tidak akurat (Hest, 2007; Cojocaru et al, 2009). Hasil observasi di Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, BP4 Kota Yogyakarta, Rumah Sakit Panti Rapih dan Rumah Sakit Bethesda menunjukkan banyak permasalahan yang muncul pada pencatatan dan pelaporan data TB ,seperti :
a)    Pertama, ketidakakuratan data, terdapat data yang sama ditulis berulang kali, sehingga mudah menimbulkan kesalahan;
b)      Kedua masalah ketidaklengkapan data;
c)   Ketiga validasi data memerlukan waktu lama, karena data dari Puskesmas, BP4, Rumah Sakit dan waktu lebih dari 2 jam sampai sehari penuh;
d)     Keempat, tidak dapat memberikan informasi bulanan tepat waktu;
e)      Kelima, banyak pasien yang tidak tercatat dalam program DOTS disebabkan karena pindah pengobatan dan tidak terpantau bahkan tidak dilaporkan;
f)       Keenam kesulitan untuk monitoring pasien selama pengobatan;
g)  Terakhir kesulitan untuk mengambil keputusan klinis berkaitan penegakan diagnosis TB karena kebutuhan data klinis belum ada dalam formulir TB standar, sehingga perlu dikembangkan format laporan.
Permasalahan di atas menyebabkan kesulitan dalam pemantauan rutin pengendalian TB.
Oleh karena itu membutuhkan system surveilans TB berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dikenalmdengan sistem surveilans TB elektronik (electronic Tuberculosis surveillance system). Dengan dukungan TIK sistem dapat menghasilkan informasi yang berkualitas antara lain kelengkapan (completeness), akurasi data (accurate), ketepatan waktu, mudah diakses, dan kerahasiaan serta keamanan data sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan dan pengambilan keputusan. Sistem tersebut dapat mengelola data secara optimal karena pengelolaannya dengan system manajemen database relasional (relasional database management system atau RDBMS) sehingga memungkinkan untuk mengelola data dalam jumlah besar, mulai dari pengumpulan, validasi, editing dan peremajaan data dengan akses untuk multiuser sehingga sangat tepat untuk mendukung pelaksanaan PPM
(WHO, 2009a; Nadol et al, 2008; Ovretveit et al, 2007; Chenhui et al, 2008 ). Berdasarkan hal di atas perlu dibangun basis data sistem informasi surveilans TB. Adapun tujuan penelitian ini untuk memperoleh rancangan basis data sistem informasi surveilans Tuberkulosis.
Tujuan perancangan basis data adalah database yang bisa kompak dan efisien dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan mudah untuk memanipulasi data serta bebas dari redundansi. Ada dua cara pendekatan untuk merancang basis data, yaitu dengan menerapkan normalisasi dan pembuatan ERD (Entity Relationship Diagram).

Kesimpulannya untuk memperoleh basis data surveilans TB terdiri dari 17 tabel yaitu tabel pasien, dokter, desa, kec, kab_kota, prop, kk, upk, lab, radiologi, obat, tim_surveilans, periksa, periksa_tunjang, pengobatan, survey dan periksa_serumah.

Tugas Smt 3 membuat Tabel menggunakan Mcr. Accsess ( Report Wizard dan Form Wizard )

a. Tabel Data Pasien ( Report Wizard )
b. Tabel Data Pasien ( Form Wizard )
c. Tabel Data Dokter ( Report Wizard )
d. Tabel Data Dokter ( Form Wizard )
e. Tabel Data Desa ( Report Wizard )

f. Tabel Data Desa ( Form Wizard )






Tugas Smt 3 ( Analisis Jurnal )



Tujuan dari basis data yang terdapat dalam jurnal tersebut menurut saya lebih ke penyakitnya, yaitu Tuberkulosis(TB).
Software yang dipakai adalah Microsoft Accsess.


Sabtu, 05 Oktober 2013

Tugas smt 3 Jurnal

Ratih Sari Wardani J Kesehat Masy Indones
BASIS DATA SISTEM INFORMASI SURVEILANS TUBERKULOSIS
Ratih Sari Wardani1
1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang
Email : ratihsw@gmail.com
ABTRACT
Background : Tuberculosis (TB) is a global health problem that must be controlled, one of the
problems of recording and reporting of TB control. The weakness in the completeness, accuracy,
speed time, timeliness, not recorded, it's hard and difficult monitoring in clinical decision making.
The problem can be solved with electronic TB surveillance systems using data base.
Objective : obtaining the database information system of TB surveillance
Methode : Type of research is Qualitative research, the object under investigation is a process -
the process of information, information structure and procedure for information on Tuberculosis
program. Subjects Research are Head of Infectious Diseases and Wasor TB of Distric Health
Office of Yogyakarta, TB managers of Bethesda hospital, Panti Rapih hospital, Mantri Jeron of
TB health center manager and BP4 Yogyakarta as many as 9 peoples. Collecting data through
observation, interview and literature study. Data was analyzed using content analysis method
Result : database design using the basic recording and reporting TB control program applicable
to all health care units in Indonesia, which consists of reports of TB with TB 01 to 06, namely: a).
TB 01 TB treatment card, b). TB 02 TB Patient Identity Card, c). 03 TB Register District, d). TB
04 TB Laboratory Register, e). TB 05 TB Report Application Form for sputum examination, f). TB
patients in 2006 List of suspects (suspect) who examined Sputum TB SPS. After going through the
design of the ERD and normalization is obtained 17 files are equipped with a data dictionary.
Conclusion : Getting a TB surveillance data base consists of 17 tables are tables of
pasien, dokter, desa, kec, kab_kota, prop, kk, upk, lab, radiologi, obat, tim_surveilans, periksa,
periksa_tunjang, pengobatan, survey dan periksa_serumah.
Keywords: database, surveilasns, Tuberculosis
ABSTRAK
Latar Belakang : Tuberkulosis(TB) menjadi masalah kesehatan global sehingga harus
dikendalikan, salah satu masalah pengendalian TB recording dan reporting. Kelemahan pada
kelengkapan, keakuratan, kecepatan waktu, ketepatan waktu, tidak tercatat, sulit monitoring dan
sulit dalam pengambilan keputusan klinis. Masalah dapat diatasi dengan sistem surveilans TB
elektronik menggunakan basis data.
Tujuan memperoleh basis data sistem informasi surveilans TB
Metode Jenis Penelitian kualitatif, obyek yang diteliti adalah proses - proses informasi yaitu
struktur informasi dan prosedur informasi pada pengelola program Tuberkulosis. Subyek
Penelitian Kepala Bagian Penyakit Menular dan Wasor TB Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta,
pengelola TB rumah sakit Bethesda, pengelola TB rumah sakit Panti Rapih, pengelola TB
Puskesmas Mantri Jeron dan BP4 Kota Yogyakarta sebanyak 9 orang. Pengumpulan data
melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan metode content
analisis
Hasil penelitian Perancangan basis data menggunakan dasar recording dan reporting program
penanggulangan Tuberculosis yang diberlakukan untuk semua unit pelayanan kesehatan (UPK) di
Indonesia yang terdiri dari laporan TB 01 sampai dengan TB 06, yaitu : a). TB 01 Kartu
pengobatan TB, b). TB 02 Kartu Identitas Pasien TB, c). TB 03 Register Kabupaten/Kota, d). TB
04 Register Laboratorium TB, e). TB 05 Formulir Permohonan Laporan TB untuk pemeriksaan
dahak, f). TB 06 Daftar tersangka pasien (suspek) TB yang diperiksa Dahak SPS. Setelah melalui
perancangan ERD dan normalisasi diperoleh 17 file yang dilengkapi dengan kamus data.
24
Ratih Sari Wardani J Kesehat Masy Indones
Kesimpulan Memperoleh basis data surveilans TB terdiri dari 17 tabel yaitu tabel pasien, dokter,
desa, kec, kab_kota, prop, kk, upk, lab, radiologi, obat, tim_surveilans, periksa, periksa_tunjang,
pengobatan, survey dan periksa_serumah.
Kata Kunci : basis data, surveilasns, Tuberkulosis
PENDAHULUAN
TB masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang harus dihadapi
masyarakat dunia. Setiap tahunnya, TB menyebabkan hampir dua juta kematian,
diperkirakan saat ini sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB,
yang mungkin akan berkembang menjadi penyakit TB di masa datang. Selain
jumlah kematian dan infeksi TB yang sangat besar, pertambahan kasus baru TB
pun sangat signifikan, mencapai sembilan juta kasus baru setiap tahunnya. Bila
tidak dikendalikan, dalam 20 tahun mendatang TB akan membunuh 35 juta orang.
Melihat kondisi tersebut, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization
atau WHO) telah menyatakan TB sebagai kedaruratan global sejak tahun 1993
(WHO, 2009a).
Laporan (WHO) sampai Maret tahun 2009, menyatakan terdapat sekitar
9,4 juta kasus baru (incident case) TB pada tahun 2008. Angka terus meningkat
dari 6,6 juta kasus pada tahun 1990, 8,3 juta kasus pada tahun 2000 dan 9,24 juta
kasus pada tahun 2006, 9,3 juta kasus pada tahun 2007. Sebagian besar kasus TB
pada tahun 2008 terjadi di Asia (55%), Afrika (30%), Mediterania Timur (7%),
Eropa (5%) dan Amerika (3%). Lima negara yang terbanyak dalam total kasus
TB pada tahun 2008 adalah India (1,6-2,4 juta), Cina (1,0-1,6 juta), Afrika Selatan
(0,38-0,57), Nigeria (0,37-0,55) dan Indonesia (0,34-0,52). Diantara 9,4 juta kasus
baru TB pada tahun 2008, terdapat sekitar 1,4 juta (15%) kasus Human
Immunodeficiency Virus (HIV) positif, 78% kasus HIV-positif terdapat di Afrika
dan 13% Asia Tenggara (WHO, 2009a; WHO, 2009b).
Beban TB di Indonesia masih sangat tinggi karena TB di Indonesia adalah
pembunuh nomor satu diantara penyakit menular lainnya dan nomor 3 dalam
daftar 10 penyebab kematian utama di Indonesia (setelah jantung, pembuluh darah
dan penyakit saluran pernafasan akut), setiap hari TB menyebabkan sekitar 300
orang meninggal karena TB dari 100.000 orang yang meninggal setiap tahunnya.
Hasil survei Prevalensi TB tahun 2004 menunjukkan bahwa jumlah pasien TB di
Indonesia lebih dari 600.000 orang, dengan angka prevalensi TB Baksil Tahan
Asam (BTA) positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk. Insiden kasus
baru BTA positif tahun 2006 diperkirakan 105 per 100.000 penduduk (240.000
kasus baru setiap tahun) dan prevalensi 578.000 kasus (untuk semua kasus).
(Depkes RI, 2005; WHO, 2009b ).
Mengingat besarnya kasus WHO menetapkan strategi penanggulangan
TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-
Course). Hasil evaluasi pada pelaksanaan strategi DOTS pada strategi
peningkatan sistem kesehatan salah satu yang menjadi kelemahan adalah bagian
informasi (termasuk monitoring dan evaluasi), yaitu a) rendahnya kualitas
statistik vital dan informasi demografi; b) lemahnya sistem surveilans penyakit
dan rendahnya sistim pencatatan penyakit; c) kurangnya pola data pemanfaatan
pelayanan kesehatan; d) terbatasnya ketrampilan untuk menganalisis data
25
Vol 6 no 1 Th 2010 Basis Data Sistem Informasi Surveilans
pelayanan pada tingkat supervisor, dan d) terbatasnya kapasitas penelitian sistem
pelayanan kesehatan dan operasi riset (WHO, 2008). Rendahnya kualitas
informasi didukung dengan penelitian yang berkaitan dengan adanya ketidak
lengkapan dalam pelaporan TB menyebabkan informasi tidak akurat (Hest, 2007;
Cojocaru et al, 2009). Penelitian lain yaitu penelitian Probandari tahun 2007
dengan menggunakan data sekunder dari 92 rumah sakit dan 24 klinik (116 rumah
sakit DOTS dan klinik DOTS) hasilnya adalah ada perbedaan di dalam diagnosis
pada perawatan pasien TB melalui Strategi DOTS, dimana pasien TB yang di
rawat menggunakan DOTS (TB 03) dibandingkan pada laporan pasien baru
rumah sakit (RL) hanya 12,9 % 23,7% dan 67,9% dari pasien TB yang di rawat
dengan DOTS pada RS Umum, RS Paru dan Klinik (Probandari et al, 2008).
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah salah satu provinsi di
Indonesia dengan prevalensi penderita BTA positif 64 kasus TB per 100.000
penduduk pada survei prevalensi 2004 dan DIY juga berhasil mengembangkan
PPM DOTS dengan membentuk jejaring yang melibatkan rumah sakit dan praktisi
swasta yaitu HDL dengan dukungan Fidelis dan IUATLD. Pada awal pelaksanaan
HDL dengan dukungan sistem yang selain laporan TB 01 – TB 13 juga
mengembangkan form monitoring evaluasi terdiri dari buku bantu rujuk
diagnosis, buku bantu rujuk pengobatan, buku bantu rekap mangkir (DO), lembar
monitoring OAT dan buku telepon, DIY berhasil meningkatkan penemuan kasus
TB (WHO, 2007; Irawati et al, 2007). Hal itu ditunjukkan dengan hasil surveilans
TB dengan mengacu pada tiga indikator utama yaitu indikator angka penemuan
Pasien Baru TB BTA positif (case detection rate atau CDR), angka konversi
(conversion rate) dan angka kesembuhan (cure rate) dari tahun 2000-2008
mengalami peningkatan akan tetapi masih di bawah target nasional bahkan trend
ketiga indikator tersebut menunjukkan pada tahun 2006 – 2008 ada
kecenderungan pencapaiannya menurun ( CDR 2006 56.11%, 2007 51,63% dan
2008 51.88%; angka konversi 2006 80,93%, 2007 78,84% dan 2008 76,65%;
angka kesembuhan 2006 79,63%, 2007 78,75% dan 2008 75, 66%). Pencapaian
indikator untuk lima kabupaten atau kotamadya di DIY tahun 2007, untuk
indikator CDR mayoritas tidak mencapai target (80%), indikator conversion rate
sebagian besar tidak mencapai target (60%) dan indikator cure rate mayoritas
kabupaten/kota ( 80%) tidak mencapai target nasional yaitu 85%. (Dinkes DIY,
2009).
Hasil observasi di Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, BP4 Kota
Yogyakarta, Rumah Sakit Panti Rapih dan Rumah Sakit Bethesda menunjukkan
banyak permasalahan yang muncul pada pencatatan dan pelaporan data TB
pertama, ketidakakuratan data, terjadi karena pengisian formulir masih dilakukan
secara manual sehingga untuk mengisi seluruh formulir baik standar maupun buku
bantu terdapat data yang sama ditulis berulang kali, sehingga mudah
menimbulkan kesalahan. Kedua masalah ketidaklengkapan data, sebagai contoh
data yang diisi dalam formulir pelaporan TB 01 tidak lengkap sebelum
pelaksanaan validasi sampling diambil 10 laporan TB 01 secara acak semuanya
tidak lengkap pengisiannya, dikarenakan petugas harus mengumpulkan data dari
berbagai sumber untuk melengkapi laporan TB 01. Ketiga validasi data
memerlukan waktu lama, karena data dari Puskesmas, BP4, Rumah Sakit dan
26
Ratih Sari Wardani J Kesehat Masy Indones
Puskesmas harus disalin ulang oleh wasor TB kabupaten/kota untuk kepentingan
pengisian data register kabupaten. Supervisi ke UPK dilaksanakan setiap 3 bulan
sekali dan setiap kali supervisi untuk validasi data pada satu UPK dibutuhkan
waktu lebih dari 2 jam sampai sehari penuh. Keempat, tidak dapat memberikan
informasi bulanan tepat waktu, karena supervisi dilaksanakan setiap 3 bulan sekali
sementara propinsi menghendaki laporan bulanan. Dengan demikian laporan
bulanan hanya berupa laporan estimasi. Kelima, banyak pasien yang tidak tercatat
dalam program DOTS disebabkan karena pindah pengobatan dan tidak terpantau
bahkan tidak dilaporkan. Keenam kesulitan untuk monitoring pasien selama
pengobatan, hal itu menyebabkan angka kesembuhan di rumah sakit tahun 2007
hanya mencapai 69%, lebih rendah dari BP4 83% dan Puskesmas 81%. Ketujuh
kesulitan jika ingin membuat laporan yang bervariasi dengan tampilan tabel,
grafik maupun peta karena harus menghitung secara manual. Terakhir kesulitan
untuk mengambil keputusan klinis berkaitan penegakan diagnosis TB karena
kebutuhan data klinis belum ada dalam formulir TB standar, sehingga perlu
dikembangkan format laporan misalnya clinical pathway yang di kembangkan di
Rumah Sakit Bethesda.
Permasalahan di atas menyebabkan kesulitan dalam pemantauan rutin
pengendalian TB, padahal pemantauan rutin diperlukan untuk mengetahui trend
epidemik TB dan perkembangan pengendalian TB. Sedang pengumpulan data
merupakan indikator kunci untuk mendokumentasikan keberhasilan, identifikasi,
estimasi epidemiologi beban TB yang lebih baik dan perencanaan. Pemantauan
paling informatif bila ada target yang jelas atau standar kinerja yang baik,
pengumpulan dan pengolahan data, data harus lengkap, akurat dan pelaporannya
tepat waktu, sehingga ketika data dianalisis menggunakan metode yang tepat
dapat digunakan sebagai dasar informasi untuk merancang dan melaksanakan
intervensi pengendalian TB (WHO, 2009a). Oleh karena itu membutuhkan sistem
surveilans TB berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dikenal
dengan sistem surveilans TB elektronik (electronic Tuberculosis surveillance
system). Dengan dukungan TIK sistem dapat menghasilkan informasi yang
berkualitas antara lain kelengkapan (completeness), akurasi data (accurate),
ketepatan waktu, mudah diakses, dan kerahasiaan serta keamanan data sehingga
dapat meningkatkan mutu pelayanan dan pengambilan keputusan. Sistem tersebut
dapat mengelola data secara optimal karena pengelolaannya dengan sistem
manajemen database relasional (relasional database management system atau
RDBMS) sehingga memungkinkan untuk mengelola data dalam jumlah besar,
mulai dari pengumpulan, validasi, editing dan peremajaan data dengan akses
untuk multiuser sehingga sangat tepat untuk mendukung pelaksanaan PPM
(WHO, 2009a; Nadol et al, 2008; Ovretveit et al, 2007; Chenhui et al, 2008 ).
Berdasarkan hal di atas perlu dibangun basis data sistem informasi
surveilans TB. Adapun tujuan penelitian ini untuk memperoleh rancangan basis
data sistem informasi surveilans Tuberkulosis.
METODE
Jenis Penelitian kualitatif, obyek yang diteliti adalah proses - proses
informasi yaitu struktur informasi dan prosedur informasi pada pengelola
27
Vol 6 no 1 Th 2010 Basis Data Sistem Informasi Surveilans
program Tuberkulosis. Subyek Penelitian Kepala Bagian Penyakit Menular dan
Wasor TB Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, pengelola TB rumah sakit
Bethesda, pengelola TB rumah sakit Panti Rapih, pengelola TB Puskesmas Mantri
Jeron dan BP4 Kota Yogyakarta sebanyak 9 orang. Pengumpulan data melalui
observasi, wawancara dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan metode
content analisis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuan perancangan basis data adalah database yang bisa kompak dan
efisien dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan
mudah untuk memanipulasi data serta bebas dari redundansi. Ada dua cara
pendekatan untuk merancang basis data, yaitu dengan menerapkan normalisasi
dan pembuatan ERD (Entity Relationship Diagram). Untuk memperoleh
rancangan basis data yang bagus, efektif dan efisien diperlukan kombinasi dari
cara pendekatan tersebut. Pendekatan dengan ERD akan dicari implementasinya
ke dalam bentuk tabel sehingga akan lebih mendekati bentuk fisiknya. Pembuatan
ERD ini lengkap dengan kardinalitas dan derajat minimasinya. Kemudian tiap
tabel diuji dengan menggunakan pendekatan normalisasi. Pengujian ini dipakai
untuk memenuhi normalisasi bentuk ke tiga (3-NF) dan minimal BCNF.
(Fathansah, 1999; Bambang, 2004 )
Perancangan basis data ini menggunakan dasar recording dan reporting
program penanggulangan Tuberculosis yang diberlakukan untuk semua unit
pelayanan kesehatan (UPK) di Indonesia yang terdiri dari laporan TB 01 sampai
dengan TB 06, yaitu : a). TB 01 Kartu pengobatan TB, b). TB 02 Kartu Identitas
Pasien TB, c). TB 03 Register Kabupaten/Kota, d). TB 04 Register Laboratorium
TB, e). TB 05 Formulir Permohonan Laporan TB untuk pemeriksaan dahak, f).
TB 06 Daftar tersangka pasien (suspek) TB yang diperiksa Dahak SPS. (Depkes,
2007). Diagram ERD (Entity Relationship Diagram) ditunjukkan pada gambar 1.
Setelah melalui proses normalisasi diperoleh 17 file di bawah ini :

Tabel 1 : Daftar Struktur File Sistem Surveilans TB
No.
Nama file
Key
Keterangan
1.
pasien
id_pasien
Berisi data pasien
2.
dokter
id_dokter
Berisi data dokter
3.
desa
id_desa
Berisi data desa
4.
kec
id_kec
Berisi data kecamatan
5.
kab_kota
id_kab
Berisi data kabupaten/kota
6.
prop
id_prop
Berisi data propinsi
7.
Kk
id_reg_upk
Berisi data kepala keluarga
8.
upk
id_upk
Berisi data unit pelayanan kesehatan
9.
radiologi
id_foto
Berisi data radiologi
10.
lab
id_sediaan
Berisi data laboratorium
11.
obat
id_obat
Berisi data obat
12.
Tim_surveilans
id_survey
Berisi data tim surveilas
13.
periksa
id_dokter+id_pasien
Berisi data transaksi hasil pemeriksaan
14.
Periksa_tunjang
id_sediaan+id_foto+id_pasieen
Berisi data hasil pemeriksaan penunjang
15.
pengobatan
id_obat+id_pasien
Berisi data hasil pegobatan
16.
survei
id_pasien+id_survei
Berisi data survey lokasi dan lingkungan
17.
Periksa_serumah
id_pasien+id_kk
Berisi data pemeriksaan serumah

Secara rinci masing-masing file dijelaskan dalam kamus data di bawah ini :
1. Kamus Data File Pasien
Tabel 2. Kamus Data File pasien
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
Id_psien
Auto Number

Long integer

Nomor Rekam Medis Pasien, dengan
format ##########

2.
Nama
Text
30
Nama Pasien
3.
Jk
Text
1
Jenis Kelamin
[1] = Laki-Laki
[2] = Perempuan

4.
Umur
Number
Long integer

Umur pasien
5.
Pekerjaan
Text
2
Pekerjaan pasien
[01]=PNS
[02]=ABRI
[03]=Pensiunan [04]=Peg. Swasta
[05]=Pedagang [06]=Nelayan
[07]=Petani
[08]=Pekerja Lepas
[09]=Ibu Rumah Tangga
[10]=Pelajar [11]=Mahasiswa
[12]=Tidak Kerja
[99]=Tidak Diketahui

6.
Pendidikan
Text
2
Pendidikan pasien
[01]=Tidak Sekolah
[02]=Belum Sekolah
[03]=TK/Play Group
[04]=Belum/Tidak tamat SD
[05]=SD [06]=SLTP
[07]=SLTA [08]=Akademi
[09]=S1 [10]=S2
[11]=S3 [99]=Tidak Diketahui
7.
Alamat
Text
25
Alamat pasien
8.
Rw
Text
3
Rukun Warga pasien
9.
id_desa
Text
5
Kode desa
10.
id_kec
Text
5
Kode Kecamatan
11.
id_kab
Text
5
Kode kabupaten/kota
12.
id_prop
Text
5
Kode propinsi
13.
Telp
Text
10
Telepon pasien
14.
Hp
Text
15
Nomor handphone pasien


2. Kamus Data File Dokter
Tabel 3. Kamus Data File Dokter
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_dokter
Auto Number
Long integer

Kode Dokter

2.
nama_dokter
Text
25
Nama Dokter
3.
Jkel
Text
1
Jenis Kelamin
[1] = Laki-Laki
[2] = Perempuan
4.
Umur
Number
Long integer
Umur dokter
5.
Keahlian
Text
25
Keahlian Dokter
6.
Alamat
Text
30
Alamat
7.
id_kab
Text
5
Kode Kabupaten/Kota
8.
id_prop
Text
5
Kode propinsi
9.
telp_rmh
Number
Long integer

Nomor telepon rumah dokter
10.
hp_dok
Number
Long integer
Nomor handphone dokter
11.
t_prakt
Text
25
Nama tempat praktek dokter
12.
Alm_prak
Text
30
Alamat praktek dokter
13.
Telp_prak
Number
15
Nomor telepon praktek dokter
3. Kamus Data File desa
Tabel 4. Kamus Data File desa
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des Keterangan
1.
id_desa
Auto number
Long integer
Kode desa
2.
nm_desa
Text
20
Nama Desa
3.
alm_desa
Text
30
Alamat desa
4.
telp_desa
Number
Long integer
Nomor telepon desa
5.
Luas_desa
Number
Long integer
Luas wilayah desa
6.
Jml_pddk
Number
Long integer
Jumlah penduduk desa

4. Kamus Data File Kec
Tabel 5. Kamus Data File kec
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des Keterangan
1.
id_kec
Auto number
Long integer
Kode kecamatan
2.
nm_kec
Text
20
Nama kecamatan
3.
alm_kec
Text
30
Alamat kecamatan
4.
telp_kec
Number
Long integer
Nomor telepon kecamatan
5.
Luas_kec
Number
Long integer
Luas wilayah kecamatan
6.
Jml_pend
Number
Long integer
Jumlah penduduk kecamatan
5. Kamus Data File kab_kota
Tabel 6. Kamus Data File Kab_kota
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des Keterangan
1.
id_kab
Auto number
Long integer
Kode kabupaten
2.
nm_kab
Text
20
Nama kabupaten
3.
alm_kab
Text
30
Alamat kabupaten
4.
telp_kab
Number
Long integer
Nomor telepon kabupaten
5.
Luas_kab
Number
Long integer
Luas wilayah kabupaten
6.
Jml_pdkkab
Number
Long integer
Jumlah penduduk kabupaten


6. Kamus Data File Prop
Tabel 7. Kamus Data File prop
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des Keterangan
1.
id_prop
Auto number
Long integer
Kode propinsi
2.
nm_prop
Text
20
Nama propinsi
3.
alm_prop
Text
30
Alamat propinsi
4.
telp_prop
Number
Long integer
Nomor telepon propinsi
5.
Luas_prop
Number
Long integer
Luas wilayah propinsi
6.
Jml_pdpr
Number
Long integer
Jumlah penduduk propinsi
7. Kamus Data File kk
Tabel 8. Kamus Data File kk
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_kk
Auto number
Long integer
Kode kepala keluarga
2.
nama_kk
Text
20
Nama kepala keluarga
3.
umur_kk
Number
Long integer
Umur kepala keluarga
4.
didik_kk
Text
2
Pendidikan kepala keluarga :
[01]=Tidak Sekolah
[02]=Belum Sekolah
[03]=TK/Play Group
[04]=Belum/Tidak tamat SD
[05]=SD [06]=SLTP
[07]=SLTA [08]=Akademi
[09]=S1
[10]=S2
[11]=S3
[99]=Tidak Diketahui
5.
sts_kerja
Text
2
Pekerjaan kepala keluarga
[01]=PNS
[02]=ABRI
[03]=Pensiunan
[04]=Peg. Swasta
[05]=Pedagang [06]=Nelayan
[07]=Petani
[08]=Pekerja Lepas
[09]=Ibu Rumah Tangga
[10]=Pelajar
[11]=Mahasiswa
[12]=Tidak Kerja
[99]=Tidak Diketahui

8. Kamus Data File upk
Tabel 9. Kamus Data File upk
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_reg_upk
Auto number
Long integer
Kode registrasi upk
2.
nm_upk
Text
20
Nama upk
3.
alamat_upk
Text
30
Alamat upk
4.
Telp_upk
Number
Long integer
Nomor telepon upk




9. Kamus Data File lab
Tabel 10. Kamus Data File lab
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_sediaan
Auto number
Long integer
Kode slide sediaan
2.
nama_lab
Text
20
Nama laboratorium
3.
alm_lab
Text
30
Alamat laboratorium
4.
telp_lab
Number
Long integer
Nomor telepon laboratorium
10. Kamus Data File radiologi
Tabel 11. Kamus Data File radiologi
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_foto
Auto number
Long integer
Kode foto
2.
nama_rdl
Text
20
Nama radiologi
3.
alm_rdl
Text
30
Alamat radiologi
4.
telp_rdl
Number
Long integer
Nomor telepon radiologi
11. Kamus Data File Obat
Tabel 12. Kamus Data File Obat
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_obat
Auto number
Long integer
Kode obat
2.
nm_obat
Text
20
Nama obat
3.
Jenis_obat
Text
10
Jenis obat
12. Kamus Data File
Tabel 13. Kamus Data File tim_surveilans
No.
Nama Field
type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_survey
Auto number
Long integer
Kode survey
2.
Ketua_surveyor
Text
20
Nama ketua surveyor
3.
Anggota
Text
30
Nama anggota surveyor
4.
Institusi
Text
30
Nama institusi
13. Kamus Data File periksa
Tabel 14. Kamus Data File periksa
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_dokter+id_pasien
Auto number
Long integer
kode dokter dan kode pasien
2.
Anamneses
Text
20
Hasil anamneses
3.
Tensi
Number
Long integer
Tekanan darah pasien
4.
Nadi
Number
Long integer
Denyut nadi pasien
5.
Respirasi
Number
Long integer
Kemampuan respirasi pasien
6
Suhu
Number
Long integer
Suhu badan pasien
7.
Bb
Number
Long integer
Berat badan pasien
8.
Parut_bcg
Text
1
Ada/tidak parut imunisasi BCG
[01]=jelas
[02]=tidak ada
[03]=meragukan

9.
riwayat
Text
1
Riwayat pengobatan
sebelumnya
[01]=belum pernah/kurang dari
1 bulan
[02]=pernah diobati lebih 1
Bulan
10.
Klasifikasi
Text
1
Klasifikasi TB
[1]=paru
[2]=ekstra paru
11.
Tipe_pasien
Text
1
Tipe pasien
[01]=baru
[02]=pindahan
[03]=pengobatan
[04]=gagal
[05]=lain-lain

14. Kamus Data File periksa_tunjang
Tabel 15. Kamus Data File periksa_tunjang
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_sediaan+id_foto+id_pasien
Auto number
Long integer
kode pasien dan kode foto
2.
Alasan
Text
2
Alasan pemeriksaan dahak
[1]=diagnosis
[2]=follow upakhir intensif
[3]=follow upakhir sisipan
[4]=1 bulan sebelum Ap
[5]=akhir pengobatan(AP)
3.
Tgl_daftar
Date
8
Tanggal pendaftaran
4.
Tgl_ambil_dhkA
Date
8
Tanggal ambil dahak sewaktu 1
5.
Tgl_ambil_dhkB
Date
8
Tanggal ambil dahak pagi
6.
Tgl_ambil_dhkC
Date
8
Tanggal ambil dahak sewaktu 2
7.
Tgl_kirim_dhk
Date
8
Tanggal kirim dahak ke lab
8.
Tgl_hasil
Date
8
Tanggal hasil
9.
Visual
Text
1
Tampilan visual dahak
[1]=nanah lendir
[2]=bercak darah
[3]=air liur

10.
HasilA
Text
1
Hasil pemeriksana dahak
sewaktu pertama
[01]=BTA+++
[02]=BATA++
[03]=BTA+
[04]=1-9***
[05]= negative
11.
HasilB
Text
1
Hasil pemeriksana dahak
sewaktu pertama
[01]=BTA+++
[02]=BATA++
[03]=BTA+
[04]=1-9***
[05]= negative
12.
HasilC
Text
1
Hasil pemeriksana dahak
sewaktu kedua
[01]=BTA+++
[02]=BATA++
[03]=BTA+
[04]=1-9***
[05]= negatif
13.
no_reg_tb_kab
Number
6
Nomor register tb kabupaten
14.
Foto
Text
1
Hasil foto rongen
[1]=positif
[2]=negative

15. Kamus Data File pengobatan
Tabel 16. Kamus Data File pengobatan
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_obat+id_pasi
en+id_reg_upk
Auto number
Long integer
kode obat, kode pasien dan kode upk
2.
tgl_mulai_obat
Date
8
Tanggal mulai berobat
3.
tgl_bln2 Date
Date
8
Tanggal berobat bulan 2
4.
tgl_bln3 Date
Date
8
Tanggal berobat bulan 3
5.
tgl_bln4 Date
Date
8
Tanggal berobat bulan 4
6.
tgl_bln6 Date
Date
8
Tanggal berobat bulan 5
7.
tgl_bln6 Date
Date
8
Tanggal berobat bulan 6
8.
tgl_bln7 Date
Date
8
Tanggal berobat bulan 7
9.
Kategori
Text
2
Kategori pengobatan
[01]=kategori 1
[02]=kategori 2
[03]=kategori anak
[04]=sisipan
10.
Jml_kdt
Number
Long integer
Jumlah tablet obat/hari
11.
Jml_strepto
Number
Long integer
Suntikan streptomycin mg/hari
12.
Hasil_akhir
Text
2
Hasil akhir pengobatan
[01]=sembuh
[02]=lengkap
[03]=default
[04]=gagal
[05]=pindah
[06]=meninggal
16. Kamus Data File survey
Tabel 17. Kamus Data File survey
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_pasien+id_survey

Auto number

Long integer
kode pasien dan kode
survey
2.
tgl_ambildt
Date
8
Tanggal pengambilan data
survey
3.
jam_ambil
Time
8
Jam pengambilan data survei
4.
Elevasi Number
Number
Long integer
Elevasi pengambilan data
lokasi
5.
Akurasi
Number
Long integer
Akurasi pengembilan data
lokasi
6.
Ordinatx
Number
Long integer
Ordinat x lokasi diambil
dengan GPS
7.
Ordinaty
Number
Long integer
Ordinat y lokasi diambil
dengan GPS
8.
fisik_rmh
Text
15
Kondisi fisik rumah
9.
Pencahayaan
Text
2
Kategori pencahayaan rumah
[01]=diatas ambang batas
[02]= dibawah ambang batas
10.
Kelembaban
Text
2
Kategori kelembaban rumah
[1]=lembab
[2]=tidak lembab
11.
ttg-tb
Text
2
Ada/tidak tb
[1]=ada
[2]=tidak ada

12.
jarak_sungai
Number
Long integer
Jarak sungai dari lokasi rumah
13.
Jarak_ttg
Number
Long integer
Jarak lokasi rumah dengan
rumah tetangga

17. Kamus Data File periksa_serumah
Tabel 18. Kamus Data File periksa serumah
No.
Nama Field
Type
Lebar
Des. Keterangan
1.
id_pasien+id_kk
Number
Long integer
kode pasien dan kode kk
2.
jml_anak
Number
Long integer
Jumlah anak
3.
nm_anak
Text
30
Nama keluarga serumah
penderita tb
4.
Jk_anak
Text
1
Jenis kelamin keluarga
penderita tb
[1]=laki-laki
[2]=perempuan
5.
Tgl_periksa
Date
8
Tanggal periksa
6.
Hasi
Text
2
Hasil pemeriksaan dahak
anggota keluarga penderita
KESIMPULAN
Memperoleh basis data surveilans TB terdiri dari 17 tabel yaitu tabel pasien,
dokter, desa, kec, kab_kota, prop, kk, upk, lab, radiologi, obat, tim_surveilans,
periksa, periksa_tunjang, pengobatan, survey dan periksa_serumah.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang, 2004,”sistem Manajemen Basis Data, Pemodelan, Perancangan dan
Terapannya ”, Bandung, Informatika
Chenhui. Zhao, Huilong, Duang and Xudong, Lu, 2008, An Integration approach
of Health Care Information System, IEEE Computer society, 978—76953118-
2/08 pages 606-609.
Cojocaru C, Hest, Van, N., A., Mihaescu, T., Davies, P.D., 2009, Completeness of
Notification of adult Tuberculosis in Lasi counti, Rumania : A capturerecapture
analysis, International Jurnal Tuberculosis Lung Disease, vol 13,
issue 9, pages : 1094-99.
Depkes RI, 2005, Survei Prevalensi Tuberculosis di Indonesia 2004, Jakarta,
ISBN 979 8270 46 0
Depkes RI, 2008, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis, Edisi 2
cetakan ke 2, Jakarta, 816.995.24/Ind/P
Fathansah, 1999, “Basis data”, Bandung, Informatika.
Hest, Van, N., A., H., Smit F, Baar, H. W.M., VRIES, De, G, Haas, De, p., E., W.,
Westenend, P. J., Nagelkerke, and Richardus, J., H., 2007, Completeness of
notification of tuberculosis in The Netherlands : how reliable is record-linkage
and capture–recapture analysis, Epidemiol. Infect., 135, 1021–10blising29. f
2006 Cambridge University Press doi:10.1017/ S0950268806007540 Printed in
the United Kingdom
Irawati, S., R., Basri, C., Arias, M., S., Prihatini, S., Rintiswati, N., Vosken, J.,
Kimerling, M., E., 2007, Hospital DOTS Linkage : a model for DOTS
expansion into government and privat hospital, International Jurnal
Tuberculosis Lung Disease, vol 11, issue 1, pages : 33-39.
Nadol, P., Stinson, W., K. Coggin, W., Naicker, M., Well, D., C. Miller, B., and
Nelson, J., L., 2008, Electronic Tuberculosis Surveilans System : a tool
managing today’s TB Programs, International Jurnal Tuberculosis Lung
Disease, vol 12, issue 3, pages : 58-516
Ovretveit, John, Gillies, R., Rundall, G., Thomas, Shortell, M., Stephen,
Brommels, Mats, 2007, Quality of Care for Chronic Ilnesses, Internasional
Journal of Health Care Quality Assurance, vol 13 no 2, pages 190-202
(http://www.emeraldinsight.com/0952-6862.htm, diakses 8 Juli 2009).
Probandari, A., Utarini, A., dan Hurtig, A., K., 2008, Achieving quality in
Directly Observed Treatment Short-Course (DOTS) strategy Implementation
process : a challenge for Hospital Public Privat Mix in Indonesia, Global
Health Action 2008 DOI: 10.3402/gha.v1i0.1831
36
Ratih Sari Wardani J Kesehat Masy Indones
WHO, 2008, Implementing The WHO Stop TB Strategy : a handbook for the
national Tuberculosis control Programme, WHO Press, Geneva
WHO Report 2009 , WHO Press, Geneva, ISBN 978-92-4-156380-2.
WHO, 2009a, Global Tuberculosis Control : Epidemiology, Strategy, Financing
WHO, 2009b, Global Tuberculosis Control : a Short Update to the 2009 Report,
ISBN 978 92 4 159886 6.
37
Powered By Blogger

Translate